Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Khas dan Unik, Tradisi dan Budaya Lombok Ini Selalu Tampil Beda dan Mengagumkan

Ngibarbalang.id – Hmmm...baru satu minggu yang lalu saya mengunjungi Pulau Lombok, sejenak berlibur dan menikmati indahnya alam Lombok. Senggigi, Gili Trawangan atau mendaki ke Gunung Rinjani selalu menjadi prioritas utama ketika berkunjung ke Lombok.

Oh ya, Baca juga sekedar informasi  Jadwal dan Tarif Bus Damri Bandara Internasional Lombok (BIL) – Epicentrum – Senggigi dan Sumbawa 

Nah, ketika dalam perjalanan menuju Senggigi saya terjebak kemacetan panjang. Awalnya saya hanya kebingungan ada sebuah kemacetan di jalan yang biasanya jarang kita temukan macet seperti ini. Di sinikan nggak kayak di Jakarta atau di Surabaya yang kita selalu terjebak dalam kemacetan panjang dan itu menjadi hal yang biasa.

Namun kemacetan kali ini tu berbeda, dengan apa yang saya alami di Jakarta atau di Surabaya. Terdengar suara gendang yang khas banget,

Acara apaan sih ini?

Hmmm...ternyata ada sebuah acara perkawinan dengan sistem adat sasak, macetnya disebabkan adanya arakan atau pawai sang pengantin, panjang banget.

Terlihat disekeliling saya para peserta pawai pengantin atau yang sering mereka sebut dengan istilah ‘Nyongkolan’.
Tradisi-dan-Budaya-Lombok-Ini-Selalu-Tampil-Beda-dan-Mengagumkan
Tradisi dan Budaya Lombok Ini Selalu Tampil Beda dan Mengagumkan 
FYI:
Nyongkolan itu adalahsuatu kegiatan adat tradisi masyarakat suku sasak yang ada di Pulau Lombok yang menyertai rangkaian acara dalam prosesi perkawinan orang-orang yang ada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. kegiatan dapat berupa arak-arakan atau pawai mengiring kedua mempelai dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita, dengan diiringi keluarga dan kerabat mempelai pria, memakai baju adat, serta rombongan musik yang bisa gamelan atau kelompok penabuh rebana,
atau disertai Gendang beleq pada kalangan bangsawan.

Saya makin terkagum-kagum melihat sistem pernikahan, sebenarnya saya lebih melihat sebagai sebuah kekompakan mereka  antara satu sama lainnya, ada interaksi sosial di dalam acara ‘nyongkolan’ yang meraka menganggap sebagai sebuah hiburan menarik.

Nah, kalo kalian sempat ke Lombok pasti akan nemuin hal serupa dengan apa yang saya alami. Kalo di Jakarta atau Surabaya macetnya bikin membosankan tapi kalo di Lombok macetnya bikin kepala bergoyang oleh iringan musik dan mata terkagum melihat kekompakan yang berbalu dalam adat tradisi dan budaya suku sasak Lombok.

Oke ya guys, sepertinya saya ingin kupas lagi lebih dalam tentang tradisi dan budaya suku sasak Lombok, simak terus ya!

Ada yang mereka sebut dengan Gendang Beleq
Tradisi-dan-Budaya-Lombok-Ini-Selalu-Tampil-Beda-dan-Mengagumkan
Tradisi dan Budaya Lombok Ini Selalu Tampil Beda dan Mengagumkan 
Gedang beleq berasal dari kata ‘Gendang ‘ dan ‘Beleq’. Gendang berarti alat tabuh dan ‘Beleq’ berarti Besar. Secara keseluruhan, Gendang Beleq adalah sebuah alat musik tradisional suku sasak Lombok dengan komposisi gendang atau alat tabuh yang berukuran besar dipadukan dengan beberapa alat lainnya seperti  Sebuah gendang kodeq (gendang kecil), dua buah reog sebagai pembawa melodi masing-masing reog mama, terdiri atas dua nada dan sebuah reog nina, sebuah perembak beleq yang berfungsi sebagai alat ritmis, delapan buah perembak kodeq.

Perembak ini paling sedikit enam buah dan paling banyak sepuluh. Berfungsi sebagai alat ritmis, sebuah petuk sebagai alat ritmis, sebuah gong besar sebagai alat ritmis, sebuah gong penyentak, sebagai alat ritmis, sebuah gong oncer, sebagai alat ritmis, dan dua buah bendera maerah tau kuning yang disebut lelontek.

Awal mulanya, gendang beleq selalu menjadi tradisi dan budaya pada masa Kerajaan. Kala itu berfungsi saat kerajaan akan menghadapi perang.

Nah, ketika Gengang Beleq dimainkan bersama alat musik lainnya akan menghasilkan nada yang khas dan unik lalu dibarengi dengan tarian.

Tradisi dan budaya bau Nyale di Pantai Selatan Lombok
Tradisi-dan-Budaya-Lombok-Ini-Selalu-Tampil-Beda-dan-Mengagumkan
Tradisi dan Budaya Lombok Ini Selalu Tampil Beda dan Mengagumkan 
Bau Nyale, sebuah tradisi dan budaya Lombok yang bernilai sakral. Ketika waktunya tiba maka akan ada festival bau Nyale di Pantai Selatan Pulau Lombok. Biasanya berpusat di Kabupaten Lombok Tengah.

Mengapa sakral?

Bau Nyale ternyata memiliki kisah dan cerita yang dangan fenomenal dikalangan masyarakat Sasak Lombok. Alkisah, ada seorang Putri Raja Tonjang Baru yang sangat cantik. Sang putri yang memiliki paras canti tersebut biasa dipanggil dengan sebutan Putri Mandalika.

Kecantikan Sang Putri Mandalika tersebar hingga ke seantero nusantara atau kerajaan-kerajaan lainnya.  Karena kecantikannya menimbulkan hasrat para Putra Raja untuk meminang.
Karena yang datang meminang adalah para putra raja dari kerajaan-kerajaan lainnya maka dikwatirkan akan terjadi peperangan jikan sang putri menolak pinangan tersebut, penolakan bagi seorang raja adala penghinaan.

Kebingingan dan kecemasan sang Putri Mandalika membuatnya mengambil sebuah keputusan yang sangat fatal. Pada tanggal 20 bulan kesepuluh untuk menceburkan diri ke laut lepas.
Akhir cerita, dipercaya oleh masyarakat yang ada di Pulau Lombok hingga kini bahwa Nyale adalah jelmaan dari Putri Mandalika yang kala itu menceburkan dirinya ke laut lepas.

Nyale adalah sejenis binatang laut berkembang biak dengan bertelur, perkelaminan antara jantan dan betina. Upacara ini diadakan setahun sekali. Bagi masyarakat Sasak, Nyale dipergunakan untuk bermacam-macam keperluan seperti santapan (Emping Nyale), ditaburkan ke sawah untuk kesuburan padi, lauk pauk, obat kuat dan lainnya yang bersifat magis sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Tradisi dan Budaya Upacara Rebo Bontong
Tradisi-dan-Budaya-Lombok-Ini-Selalu-Tampil-Beda-dan-Mengagumkan
Tradisi dan Budaya Lombok Ini Selalu Tampil Beda dan Mengagumkan 
Beda halnya dengan Tradisi Bau Nyale, Upacara Rebo Bontong merupakan tradisi dan budaya utnuk menolak balan bencana serta penyakit-penyakit yang ada. Acara ini biasanya dilaksanakan setiap tahun sekali tepat pada hari Rabu minggu terakhir bulan Syafar.

Masyarakat Sasak Lombok percaya bahwa pada hari ‘Rebo Bontong’ merupakan puncak akan terjadi Bala bencana dan penyakit,

Secara gamblang, Rebo Bontong ini mengandung arti Rebo dan Bontong yang berarti putus sehingga bila diberi awalan pe menjadi pemutus. Upacara Rebo Bontong ini sampai sekarang masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat di Kecamatan Pringgabaya.

Tradisi dan Budaya Kesenian Slober
Tradisi-dan-Budaya-Lombok-Ini-Selalu-Tampil-Beda-dan-Mengagumkan
Tradisi dan Budaya Lombok Ini Selalu Tampil Beda dan Mengagumkan 
Tak hanya alam yang indah, lombok juga memiliki nilai-nilai seni yang selalu mereka pegang erat dala tradisi dan budaya mereka. Salah satunya adalan Kesenian Slober.

Kesenian Slober adalah salah satu jenis musik tradisional Lombok yang tergolong cukup tua, alat-alat musiknya sangat unik dan sederhana yng terbuat dari pelepah enau dengan panjang 1 jengkal dan lebar 3 cm. Kesenian slober didukung juga dengan peralatan yang lainnya yaitu gendang, petuq, rincik, gambus, seruling.

Fyi: ternyata nama kesenian slober diambil dari salah seorang warga desa Pengadangan kecamatan Pringgasela yang bernama atau yang sering mereka panggil Amaq Asih alias Amaq Slober. Kesenian ini salah satu kesenian yang masih eksis sampai saat ini yang biasanya dimainkan pada setiap bulan purnama.

Unjuk kejantanan dalam tradisi dan Budaya Periseian
Tradisi-dan-Budaya-Lombok-Ini-Selalu-Tampil-Beda-dan-Mengagumkan
Tradisi dan Budaya Lombok Ini Selalu Tampil Beda dan Mengagumkan 
Nah kalau yang satu ini sedikit memacu andrenali kita keta melihatnya, MMA versi Masyarakat Lombok. Pertarungan ini biasa mereka sebut dengan ‘Peresaian’ yang merupakan seni bela diri Masyarakat Lombok.

Sejarah awalnya Peresaian ini adalah ketika masih dalam sistem Kerajaan, dimana mereka berlatih pedang sebelum menuju medan pertempuran yang sebenarnya. Jadi Tradisi dan Budaya Peresaian ini adalah murni dari hasil peradaban masyarakat suku sasak Lombok dari zaman Kerajaan waktu itu.
Jika awalnya menggunakan Pedang, maka saat ini alat yang mereka gunakan adalah berbahan rotan dengan lapisan aspal dan pecahan kaca yang dihaluskan, sedangkan perisai (Ende) terbuat dari kulit lembu atau kerbau.

Para pemainnya di sebut ‘Pepadu’, mereka selalu dilengkapi dengan ikatan kepala sebelum akan bertarung di arena peresaian. Ada ‘juri’ sebagai penengah pertarungan ini. Jika salah satunya menyerah atau sudah mengeluarkan darah maka pertarungan akan dihentikan oleh juri.

Nah, ada banyak lagi tradisi dan budaya suku sasak Lombok yang dapat kamu saksikan dalam atraksi budaya atau festival, yang jelas sangat menarik loh! Makanya, siapkan diri kamu baut travelling ke Lombok, di jamin nggak akan menyesal dech sesampai di Lombok. Keep travelling guys...!!! 

Berikut ini informasi  Jadwal dan Tarif Bus Damri Bandara Internasional Lombok (BIL) – Epicentrum – Senggigi dan Sumbawa

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Post Top Ad

Your Ad Spot