Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Warisan Arsitektur dan Fakta Religi Istana Dalam Loka Sumbawa, Arsitektur Anti Gempa Loh!


Warisan Arsitektur dan Fakta Religi Istana Dalam Loka Sumbawa, Arsitektur Anti Gempa Loh!

Ngibarbalang.id – “Indonesia Kaya” sebuah pernyataan yang sejalan dengan apa yang dimiliki Indonesia. Dari kekayaan alam, suku, bahasa hingga keunikan arsitektur bangunan-bangunan kuno yang berdiri didalamnya atau yang sering kita sebut sebagai rumah adat. 

Misalnya rumah adat berikut ini  Rumah Gadang Sumatera Barat, Rumah Rakit Bangka Belitung, Rumah Gapura Candi Bentar  Bali, Rumah Tongkonan Sulawesi Selatan, Rumah Lamin Kalimantan Timur, dan di Sumbawa NTB ada Dalam Loka.

Unik dan kuat...

Arsitektur Indonesia adalah arsitektur rumah panggung dari kayu, yaitu teknik konstruksi yang mempergunakan sambungan tanpa paku atau alat dan bahan penyambung selain kayu. Prinsip rumah panggung tersebar dalam kebudayaan Indonesia. 

Ciri umum dari rumah panggung adalah rumah dibangun dengan bertiang, lantai rumah di atas tanah, terbuat dari papan atau bambu, kecuali bagian dapur tidak berkolong atau dibeberapa daerah tetap dibuat berkolong.

Salah satu rumah tradisional yang masih berdiri kokoh tersebut dapat kita lihat di Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), Bala Loka atau Istana Dalam Loka Sumbawa.

Ada fakta unik dan menarik dari Rumah Tradisional yang satu ini.

Filosofi religi Istana Dalam Loka Sumbawa

Ada sebuah kajian mendalam tentang Islam didalam arsitektur bangunan ini, Filosofi tentang 99 tiang yang menopang Istana yang masih berdiri kokoh hingga saat ini,  99 tiang  yang merupakan pesan kepada umat bahwa  99 Sifat Allah hendaklah selalu kita tanamkan dalam hati.  

Dua Rumah kembar dengan tiga lapis  atap adalah pesan kepada umat bahwa Ikatan yang paling kuat itu adalah Syahadat,  Allah Swt dan Muhammad SAW. 

Tiga lapis atap itu adalah pesan bahwa hendaknya umat selalu berpegang teguh kepada 3 sumber utama yaitu  

Alqur’an, 

Hadist dan 

Ijma para Ulama. 

Tangga istana yang cendrung ke sebelah kiri bagian Istana adalah perlambangan dari sebuah rukun dalam shalat ketika seorang hamba ber takhiyat  mengucapkan Syahadat dengan  meluruskan jari telunjuknya, dan melipat jari-jari yang lain.

Dilihat dari sudut pandang Makro rumah suku Sumbawa hampir sama dengan suku Bugis,

Atau mungkin suku Sumbawa dan Suku Bugis itu bersaudara ya..!!!

Mungkin ada hubungannya...

Nah, berikut ini nilai filosofis yang melekat pada bangunan Istana Dalam Loka Sumbawa yang dirikan:

Alam Atas (Bao Alang) atau bagian atas rumah

Pada rumah tradisional Sumbawa terdapat bagian atas/ alam atas rumah atau yang sering mereka sebut bao alang.

Pada bagian ini memiliki makna bahwa kehidupan diatas alam sadar manusia yang terkait dengan kepercayaan yang tidak nampak (suci, kebaikan, sugesti, sakral). 

Sebagaimana dalam pemahaman masyarakat Sumbawa bahwa dunia atas adalah tempat bersemayamnya para dewa (Nene’Koasa) yang berhak dipuji dan dihormati, sehingga timbul keyakinan dari masyarakat Sumbawa bahwa bagian atas rumah (Bao Alang) dijadikan sebagai tempat penyimpanan padi atau hasil pertanian lainnya.

Pada waktu dahulu, Selain itu biasa juga dimanfaatkan untuk tempat persembunyian anak-anak gadis yang sedang dipingit sebelum mendapatkan jodoh untuk kegiatan keputren seperti menenun dan menjahit/menyulam.

Namun,

Pada kehidupan di rumah-rumah panggung masyarakat Sumbawa, fungsi tersebut sudah tidak terlihat lagi adanya. Pada bagian atas ini sudah jarang di fungsikan keberadaannya.

Alam Tengah (Pang Tengah),  atau ruangan rumah

Pada bagian ini sama lazimnya dengan rumah-rumah lainnya, bagian ini merupakan tempat aktifitas keseharian pemilik rumah.

Namun, makna filosofi pada bagian ini mengandung arti bahwa kehidupan di alam sadar manusia yang terkait dengan aktivitas keseharian di dalam rumah, sehingga badan rumah dibagi menjadi tiga bagian antara lain, ruangan bagian depan rumah yang dimanfaatkan untuk menerima para kerabat atau keluarga dan para tamu yang datang serta tempat kegiatan adat. 

Bagian tengah dimanfaatkan untuk ruang tidur orang-orang yang dituakan termasuk kepala keluarga, dan ruangan bagian dalam dimanfaatkan untuk kamar tidur anak-anak serta dapur (jambang) untuk kegiatan masak memasak.

Alam Bawah (De’ Pang Bawa’/Tabongan/kolong rumah), atau bagian kolong rumah panggung

Desain rumah panggung yang tinggi sehingga memiliki ruang di bawah rumah yang bersifat terbuka atau tanpa dinding. Hal ini juga terkait dengan media yang digunakan untuk mencari rejeki, termasuk alat-alat pertanian, tempat menenun, tempat bermain bagi anak-anak dan kandang binatang. 

Suku Sumbawa terkenal sebagai suku yang memanfaatkan bumi untuk tempat tinggal baik di daerah pantai, di daerah aliran sungai dan di pegunungan.

Menurut Mangunwijaya (1992:95-96), orang-orang terdahulu memanfaatkan tata wilayah dan tata bangunan (arsitektur) tidak saja diarahkan untuk penikmatan rasa estetika semata, tetapi terutama demi kelangsungan hidup secara kosmos. 

Selain ruang diatas, masih ada lagi tambahan di bagian belakang yaitu Sanikan ruang dapur yang ditautkan dengan Jambang (jamban) serta ruang kecil di depan rumah yang disebut paladang, tempat berbincang atau bercengkerama yang biasa dikenal dengan teras depan. 

Material dinding rumah biasanya terbuat dari anyaman bambu atau papan,

Sedangkan untuk lantai digunakan material papan dan penyangga balok kayu. Atap rumah tradisional suku Sumbawa bisa bermacam-macam, ada yang menggunakan material bambu (disebut santek), ada yang menggunakan material alang-alang (disebut re) dan ada juga yang menggunakan material kayu yang biasa disebut dengan sirap.

Arsitektur rumah anti gempa!

Indonesia yang dikenal berada di jalur Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, sehingga bada daerah ini lehih rawan terjadi gempa. Indonesia adalah tempat bertemunya tiga lempeng bumi yang terus-menerus saling mendorong. 

Semakin banyak lempeng, tambahnya, maka patahannya semakin rumit dan berbahaya.

Konstruksi bangunan rumah tradisional Sumbawa tidak menggunakan paku besi sama sekali melainkan menggunakan pasak kayu, hubungan tiang dengan balok yang menunjang lantai diatasnya menggunakan sambungan sistem baji sehingga aman bila terjadi gempa bumi karena sifatnya yang lentur.

Elemen arsitektur bangunan yang berhubungan dengan konstruksi panggung, mulai dari tiang, balok, gording, usuk, reng, bahan penutup atap, lantai, dinding, tangga pintu, jendela, termasuk juga pelengkapan penunjang seperti grendel pintu.

Begitu juga pada bagia tiang yang berada di atas permukaan tanah dan biasanya beralaskan beto yang di cetak seperti limas.

Nah, artsitetur kuno ini ternyata lebih tahan gempa. Benar nggak sih! /NB

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Post Top Ad

Your Ad Spot