Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Secuil Impian di Timur Indonesia

Ngibarbalang.id – “Ayo..!!! Ayo...!!! Ayo...!!!” teriakan riuh terdengar dari sekumpulan orang-orang yang terdiri dari anak-anak dan sebagian kecil juga terlihat ada orang dewasa. 

Tampak berbagai ekspresi dari wajah mereka. Ada yang terlihat kecewa, ada yang beraut gembira dan ada yang sedang bertepuk tangan sambil tersenyum.

Siang itu, terik panas matahari serasa membakar kulit.  Namun, panasnya siang tak membuat mereka membubarkan diri. Masih terlihat jelas kegembiraan mereka dengan keringat yang membasahi wajah dan baju mereka.

Inilah anak-anak SDN Sonraen, Amarasi Selatan – Kupang.

Di tangan kiri mereka terlihat sedang memegang sesuatu yang bentuknya seperti jantung pisang yang berukuran kecil, sedangkan pada tangan kanan terlihat seutas tali. 

Kumpulan anak-anak yang membentuk formasi lingkaran, mereka sedang memainkan sebuah permainan tradisional yang cukup dikenal di Nusantara ini .

Ayoo....!!!

Siaaaap....!!!!

Ada empat orang anak sedang bersiap-siap dengan lemparannya.

Satu...dua...tiiiigaaa...!!!!

Terlihat mereka melemparkan gasing nya, inilah permainan yang saya maksudkan, sebuah permainan tradisional yang sudah langka kita temukan saat ini. Gasing dimainkan dengan cara di lempar seraya menarik tali yang melilit di badan gasing tersebut, berputar untuk beberapa saat. 

Menariknya, durasi Lamanya waktu berputar gasing sangat tergantung kepada keterampilan si pemain serta keseimbangan gasing tersebut. Interaksi bagian kaki atau paksi dengan permukaan tanah membuat gasing bisa tegak. Efek giroskopik berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya bagian badan terjatuh ke permukaan tanah.

Sorakan penonton membuat suasana semakin heboh, tepuk tangan peserta lainnya juga sekali-kali menghiasai permainan ini. Oh ya, permainan gasing ini bisa juga dimainkan oleh 2 orang atau berkelompok dalam sekali rotasi permainan.

Di Sonraen, hal semacam ini mulai sengaja dihidupkan kembali. Permainan ini dinilai memiliki sisi positif lainnya misalnya, Terdapat nilai seni di dalamnya, menanamkan nilai sportivitas, kejujuran, kesabaran, ketangkasan, serta filosofi kehidupan dari gasing itu sendiri. 

Nilai-nilai inilah yang diharapkan mampu tumbuh dalam diri anak-anak di Sonraen. Itulah harapan yang tersembunyi dibalik hidupnya kembali permainan tradisional gasing di Sonraen.

Permainan Gasing di Halaman SDN Sonraen | Galeri Festival  KBA Kupang
Uniknya lagi...

Permainan ini dijadikan sebagai salah satu agenda dalam acara yang bertajuk Festival Kampung Berseri Astra (KBA) yang diinisiasi oleh PT. Astra Internasional yang digelar di halaman SDN Sonraen, Kelurahan Sonraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Kepala SDN Sonraen, Joseba DJ Thao mengatakan bahwa dengan hidupnya jenis permainan itu, keceriaan anak-anak selalu terlihat di wajah mereka, ada karakter-karakter tertentu yang diharapkan tumbuh dalam diri anak. 

Permainan tersebut juga sangat membantu mereka untuk lebih akrab satu dengan yang lain. Karena dengan bermain bersama permainan itu akan tercipta keakraban di antara mereka.

”Pokoknya sangat terbantu untuk membentuk karakter atau kepribadian yang jujur, berani, dan sportivitas. Kami menanamkan nilai itu lewat permainan,” kata Ibu Kepala SDN Sonraen Joseba Thao.

Ada Permainan Gasing, ada Metode Gasing

Hari itu, halaman SDN Sonraen memang sedang ramai oleh peserta dan penonton permainan Gasing. Teriakan, kegembiraan serta tepuk tangan yang meriah. Namun, mata saya mulai terfokus pada seorang siswi manis bernama Amelia Lituwina Nahak atau biasa dipanggil Ela oleh teman-temannya.

Ela adalah salah seorang siswi di SDN Sonraen yang pernah menjadi Juara I pada ajang OSN (Olimpiade Sains Nasional) tingkat Kecamatan Amarasi Selatan dan melanjut ke tingkat Kabupaten Kupang.

Amelia Lituwina Nahak, dari tidak suka Matematika hingga menjadi juara I Olimpiade Matematika.

Great Ela...!!! sebuah pencapaian yang luar biasa.

Berawal dari masa lalu Ela yang selalu mendapatkan nilai terendah untuk mata pelajaran matematika di SDN Sonraen, di mata para guru di SDN Sonraen Ela bukanlah merupakan siswa yang tergolong pintar dalam bidang matematika. Nilai matematika Ela selalu rendah dan di bawah standar.

Secara umum, siswa selalu berpikiran jika pelajaran matematika merupakan salah satu pelajaran yang cukup menyulitkan dan tidak menyenangkan, termasuk Ela. Di mata Ela dan sebagian teman-temannya, matematika merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. 

Bahkan untuk hitung-hitungan yang sangat sederhana, seperti halnya penjumlahan, pembagian atau pun yang lainnya, otak mereka seakan terasa beku.

Mereka seperti orang yang mengalami "fobia angka".

Tiap jadwal mata pelajaran matematika Ela selalu kesulitan dan tiap kali ulangan nilai Ela pasti selalu rendah. Kelemahan inilah hingga pada akhirnya Ela terpilih untuk bertemu dengan seorang fisikawan Profesor Yohanes Surya dan mengikuti program pelatihan.

Sebagai catatan, Professor Yohanes Surya adalah seorang fisikawan ternama Indonesia yang mendirikan suryainstitute.org.

Professor Yohanes Surya | Matematika Gasing

Pada bulan Mei - Juli 2017, Melalui Yayasan Pendidikan Astra, Ela diberangkatkan ke Jakarta untuk mengikuti program pembelajaran bersama sang Profesor.  Di sinilah awal mula gadis belia kelahiran 21 Juli 2007 ini mulai menyukai pelajaran Matematika.

Menurutnya, belajar bersama Profesor Yohanes sangat menyenangkan, sangat berbeda dengan ia belajar saat berada di sekolahnya. Metode Gasing yang diterapkan Profesor mampu meningkatkan minat Ela terhadap matematika

“Belajar nya menyenangkan, saya senang...”

Metode Gasing?

Ditelusuri dari situs suryainstitute.org,  GASING itu singkatan dari gampang, asyik dan Menyenangkan. Sang inisiator, GASING adalah singkatan dari gampang, asyik, dan menyenangkan. GASING merupakan suatu metode yang menekankan pada penyederhanaan dalam pemaparan konsep sehingga gampang sangat mudah dimengerti, dengan melibatkan siswa secara langsung  melalui  pemanfaatan  educational  resources  and  tools,  sehingga  aktifitas  belajar dan mengajar  menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Konsep Metode Gasing | Prof. Yohanes Surya

Metode ini ada 3 Tahap: Konkrit, Abstrak dan mencongak agar tercipta suatu pembelajaran secara aktif dan menyenangkan.

Konkrit, membantu siswa atau peserta metode gasing untuk memahami konsep. Abstrak, membantu siswa atau peserta metode gasing untuk membangun pola Imajinasi dan mencongak, menstimulasi kerja otak kanan dan kiri bersamaan.  Ketiga komponen ini akan mengasah aspek afektif, psikomotorik, kognitif dan sekaligus memberdayakan modalitas belajar siswa. Dalam aspek visual, auditory dan kinestetik.

Pada program metode matematika gasing ini berlaku tes awal dan tes akhir, Amelia atau Ela hanya mendapatkan nilai 16 pada saat tes awal. Sedangkan nilai ibu guru Yetrin 32 pada tes awal program metode matematika Gasing.

Nilai ini menjadi pedoman untuk melihat apakah peserta mengalami peningkatan atau tidak setelah 2 bulan.

Setelah dua bulan berlatih, Amalia mendapatkan nilai 82 dan Yetrin 89. Dari nilai awal Ela hanya 16 menjadi 82 dan Ibu guru Yetrin pada tes awaln 32 menjadi 89 pada tes akhir.

Sesuatu yang luar biasa, bahkan mereka menjadi peserta dengan predikat lulusan pelatihan Matematika Metode Gasing Batch 1 Terbaik, karena lulus dengan nilai membanggakan.

Setelah program pelatihan berakhir, semua peserta kembali ke daerah masing-masing, termasuk Ela dan ibu guru Yetrin. Pulang dengan menyandang predikat terbaik, Ela dan ibu guru Yetri menjadi fasilitator dan berbagi ilmu yang didapatkan kepada siswa-siswi lainnya di SDN Sonraen,

Ela Jadi Guru?

Begini, Sepulang nya dari program pelatihan tersebut, Ela dan Ibu guru Yetrin menjadi jembatan bagi anak-anak yang ada di SDN Sonraen untuk belajar matematika yang menyenangkan, Ela mulai berbagai ilmu yang didapatkannya pada adik-adiknya di kelas 1 dan 2, sedangkan sang Guru untuk kelas 3, 4, 5 dan 6. 

So, ilmu yang didapatkan dari Profesor Yohanes tidak hanya sebatas pada Ela dan Ibu Guru Yetrin Louisa Otemusu, namun virus matematika metode Gasing tersebut menyebar ke semua siswa SDN Sonraen melalui dua orang ini.

Manajer Akademik YPA-MDR Budi Priyanto, para siswa dan guru yang mengikuti program ini memang ditargetkan untuk mampu menjadi agen perubahan dan mampu untuk menularkan pengetahuan yang mereka dapat dari pelatihan matematika metode gasing ini, minimal di sekolahnya masing-masing.

Hingga saat ini, peserta pelatihan tersebut telah mengaplikasikan ilmu matematika gasing pada 34 sekolah lain di Kabupaten Kupang.

Terlepas dari Ela dan Ibu Guru Yetrin Louisa Otemusu

Melangkah ke sekeliling SDN Sonraen, terlihat sebuah gedung baru. Ini gedung renovasi atau bangunan baru!  Tapi entah lah! Sepertinya gedung yang baru direnovasi...

“Itu perpustakaan baru ya?” tanya saya kepada salah satu ibu guru yang ada di SDN Sonraen.

“Iya, tapi itu gedung lama yang direnovasi” jawab singkat ibu guru seraya tersenyum manis.

Taman Baca yang ada di Sonraen | Kupang

Keberadaan perpustakaan menjadi pertanda sebuah usaha yang dilakukan untuk membangkitkan minat baca siswa. Sebuah solusi untuk meningkatkan minat baca anak-anak yang ada di SDN Sonraen.

Minat baca secara umum di Kabupaten Kupang memang masih tergolong rendah, termasuk di Kelurahan Sonraen ini.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Kepala Perpustakaan NTT, Frederik Tielman, bahwa minat baca masyarakat hingga saat ini masih rendah. 90 persen masyarakat lebih suka menonton Televisi dan 18 persen yang baca koran, majalah dan buku (Pos-Kupang.com)

Minat baca rendah atau ketersediaan buku yang masih kurang?

Seperti diungkapkan oleh Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, bukan minat bacanya yang kurang tapi akses buku sulit dan kurang.

“ Saya merasa bukan minat bacanya yang kurang karena setiap ke kampung bawa buku, anak-anak menangis kalo bukunya dibawa pulang” ungkap Najwa Shihab kepada Wartawan saat berada di Kupang.

Salah satunya yang ada di SDN Sonraen, di sekolah ini keberadaan buku-buku bacaan masih sangat minim sekali. Yang tersedia sebatas buku pelajaran yang biasa mereka pakai belajar di kelas.

Pihak SDN Sonraen berharap dengan adanya perpustakaan tersebut minat baca siswa bisa meningkat. Perpustakaan ini merupakan CSR dari PT. Astra Internasional.

Dengan ketersediaan buku-buku di perpustakaan siswa tak sulit lagi untuk mendapatkan buku bacaan, tugas selanjutnya adalah memperbanyak referensi buku yang ada di perpustakaan tersebut.

Sejak 2017 lalu, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur sudah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh kepala sekolah agar memanfaatkan waktu 10 hingga 15 menit setiap hari untuk membaca buku di sekolah. 

Membaca buku dilakukan sebelum proses belajar mengajar berlangsung.

Pengadaan fasilitas perpustakaan seperti di SDN Sonraen serta kebijakan pemerintah Provinsi NTT menjadi  2 hal yang sangat membantu dalam proses peningkatan minat baca siswa dan siswi yang ada di sekolah. Ada kebijakan dan ada fasilitas yang menopang kebijakan tersebut.

...a book is a dream you hold in your hand...
-unknown author-

Siang menjelang sore...

Masih berada di lingkungan SDN Sonraen, terlihat anak-anak kecil berlarian kejar-kejaran bersama teman-temannya.  Terlihat jelas kegembiraan mereka.

Saya pun menghampiri seorang ibu-ibu yang sedang duduk sambil melakukan aktivitas menenun. Sejenak duduk santai seraya ngobrol dengan ibu-ibu ini. Namun, ketika sedang mengobrol, saya terhenti dengan perkataan yang terlontar dari salah satu ibu-ibu ini....

“Jangan nikah kalo belum bisa tenun...”

"Waduuh..!!! gawat nih..."

Bagi mereka, setiap wanita wajib menguasai teknik dan mahir menenun. Mereka menganggap ini adalah bekal bagi perempuan yang ada di Kelurahan Sonraen.

“Kalo tidak bisa menenun tidak bisa menikah kah mama?”

Terlihat senyuman di wajah kala saya melontarkan pertanyaan seperti itu.

“Wajib hukumnya bisa...” timbalnya kembali.

Terlepas benar atau tidaknya perkataan ini, atau mungkin hanya sebuah candaan belaka. Akan tetapi ada sisi positif dari hal tersebut, semakin banyaknya perempuan di Kelurahan Sonraen belajar menenun walaupun pada akhirnya mereka tidak menekuni atau menjadikan menenun sebagai profesi tetap mereka. Tapi rata-rata dari perempuan Sonraen bisa menenun.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang diucapkan oleh Head of Environment & Social Responsibility PT Astra International, menyatakan bahwa pihaknya tengah mengusahakan agar kegiatan menenun bisa masuk kurikulum pelajaran di sekolah-sekolah di Desa Sonraen. 

Melalui Yayasan Pendidikan Astra-Michael D. Ruslim (YPA-MDR), Astra membantu memfasilitasi tenaga pengajar tenun. Agar kegiatan menenun ini diajarkan sedini mungkin mulai dari bangku sekolah atau pendidikan formal.

Aktivitas menenun masyarakat Kelurahan Sonraen | Kupang - NTT

Mudah-mudahan terealisasi....

Saat ini, penenun di Sonraen saling bergiliran menggunakan alat tenun yang ada. Alat-alat tersebut mereka dapatkan dari sumbangan PT. Astra Internasional.

Keterbatasan ini tidak membuat mereka yang ada di Sonraen berputus asa, mereka secara bergiliran menggunakan alat tenung tersebut. Satu orang penenun bisa menghasilkan dua helai selendang dalam kurun waktu sekitar 2 sampai 3 hari. 

Satu helai selendang dihargai Rp. 200 ribu–Rp. 300 ribu. Jas pria dijual antara Rp. 1 juta hingga Rp. 2 juta. Itu artinya, dalam seminggu penenun di Kelurahan Sonraen bisa menghasilkan uang kisaran diatas 1 juta rupiah.

Namun, tidak serta merta hasil tenun mereka laris terjual, terkadang menunggu untuk beberapa hari agar selendang hasil tenun tersebut habis semuanya. 

Namun sedikit tidak perekonomian masyarakat Sonraen terbantu dengan aktivitas menenun ini. Selain itu, menjadi hal yang sangat luar ketika aktivitas tenun terus dilestarikan dari generasi ke generasi selanjutnya khususnya yang ada di Kelurahan Sonraen ini.

Guys... 

Bagaimana...???

Menarikkah..???

Tentu sangat menarik untuk menjelajahi Kelurahan Sonraen, salah satu Kampung Berseri Astra (KBA), ada secuil impian yang tertanam pada sebuah permainan tradisional gasing,  nilai seni di dalamnya, sportifitas, kejujuran, kesabaran, ketangkasan dalam bermain, serta filosofi hidup dari sebuah gasing diharapkan dapat terpatri di dalam jiwa-jiwa para generasi penerus bangsa yang ada di timur Indonesia. 

Begitu juga halnya dengan virus Metode Gasing yang tersimpan rapi pada siswi bernama Amelia alias Ela dan sang Guru Yetrin Louisa Otemusu dapat terus menyebar kepada teman-teman lainnya, serta selogan jangan menikah jika nggak bisa tenun menjadi harapan untuk tetap melestarikan potensi tenun yang ada di Kelurahan Sonraen ini. Dapat salam nich dari Sonraen, Kapan trip kesini...??? #SalamDariTimurIndonesia#SatuIndonesia


Image and data sources:
ypamdr-astra.com
www.satu-indonesia.com 
www.google.com
kupang.tribunnews.com
astra.co.id
suryainstitute.org
pembaharublog.wordpress.com 


No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Post Top Ad

Your Ad Spot