Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Krakatau dan Tsunami yang Menggenaskan?


ngibarbalang.id – Dipenghujung Tahun, air mata terurai kembali. Isak tangis, baringan manusia yang tak bernyawa menjadi hal yang sangat tragi ketika tsunami melanda dipenghujung tahun 2018 ini.

Sabtu (22/12/2018) malam dan menelan puluhan korban tewas. Mereka yang tak sempat menyelamatkan diri tewas dalam tsunami yang menggenaskan ini.

Bukan dipicu gempa bumi tektonik?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan kejadian ini bukan dipicu gempa bumi tektonik. Anyer yang berada di wilayah Serang, Banten, punya sejarah pilu ihwal tsunami terkait letusan Gunung Krakatau tahun 1883 silam.

Analisi lainnya dari Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami PVMBG Sri Hidayati mengatakan, berdasarkan analisis sementara, Gunung Anak Krakatau sebelum tsunami mengalami erupsi dan berfluktuasi secara terus menerus sejak Juni 2018.

Namun erupsi itu mengalami peningkatanan intensitas yang signifikan.

"Tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 kemungkinan besar dipicu oleh longsoran atau jatuhnya sebagian tubuh dan material Gunung Anak Krakatau (flank collapse), khususnya di sektor selatan dan barat daya.

Masih diperlukan data tambahan dan analisis lebih lanjut untuk mengetahui apakah ada faktor lain yang berperan," jelasnya.

Tsunami pada 26 Agustus 1883 lalu?

Anyer adalah sebuah tempat yang berhadapan langsung dengan Gunung Krakatau. Pada malam tanggal 26 Agustus 1883, demikian tulis Rudolf Mrazek dalam Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni (2006).

Hubungan telegram antara Anyer dan Serang, kota provinsi terdekat, terputus. Pukul setengah 10 malam, lanjut Mrazek, baik guntur maupun halilintar mereda, dan seluruh (warga) Anyer pergi tidur.

Hal-hal seperti itu sudah terjadi sepanjang waktu.

Suasana yang sangat mencekam, dentuman-dentuman suara karakatau bergema keras yang disertai dengan mengeluarkan api, sangant jelas terlihat dari Anyer.

Mrazek menceritakan ulang memori itu berdasarkan laporan R.A. van Sandick, mantan insinyur kepala di Hindia Belanda. Tahun 1890, van Sandick menerbitkan laporannya dalam buku In het Rijk van Vulcaan: de Uitbarsting van Krakatau en Hare Gevolgen.

“Pada pukul 6 pagi 27 Agustus 1883, mereka masih belum mempersiapkan diri. Sepertinya mereka tidak mengira akan ada datang air besar. Sebagian dari mereka masih tertidur dengan lelapnya dan ada juga yang terlihat sedang mandi.

 “Menjelang setengah 7”

Detik-detik air laut mulai naik, namun masyarakat saat itu tidak melihat air yang naik yang disertai gelombang besar. Air bah tsunami yang besar mulai menghancurkan bangunan-bangunan yang ada. Van Sandick juga menceritakan, mercusuar di tepi pantai terbelah menjadi dua.

Bangunan penjara pun hancur, lenyap dengan seluruh penghuninya, baik narapidana maupun para penjaga.

Pendeteksi?

Teknologi saat itu gagal mendeteksi gejala tsunami yang datang menerpa pemukiman dan erupsi Krakatau yang menerpa Anyer. Peralatan magnetik di Institut Meterologi di Batavia tidak merekam apapun yang luar biasa.

Kepanikan, ketakutan serta kebingungan menyelimuti mereka. Sesekali mereka hanya menutup telingan menahan suara dentuman dari krakatau.

Mereka hanya ampu berdoa dan menanti kabar tentang apa yang sedang terjadi.

Letusan Krakatau yang diikuti meluncurnya abu dan uap panas serta gelombang tsunami pada 1883 itu, menurut data pemerintah kolonial dikutip dari Majalah Tempo (Volume 13, 1983), menelan korban jiwa lebih dari 36 ribu orang.

Dampaknya juga dirasakan di berbagai tempat di seluruh dunia.

22 Desember 2018...

Suasana yang berbeda, ketika sedang menikmati acara di pantai Anyer tak disadar air Tsunami menerpa panggung hiburan. Terlihat jelas disebuah rekaman amatir dari sebuah telepon selular bagaimana suasana air seketika menerpa dari belakang panggung.

Terlihat tiang-tiang panggung tampak masih berserakan dimana-mana. Kursi-kursi tamu juga masih terjungkir terbalik berantakan, peralatan panggung dan band tak berwujud tertimpa pohon-pohon yang tumbang. Sepatu, baju-baju juga tercecer tanpa diketahui siapa pemiliknya.

Akibat terjangan tsunami itu, dua personel band Seventeen meninggal dunia dan beberapa diantaranya masih hilang dan belum ditemukan. Perwakilan manajer Seventeen, Yulia Dian mengabarkan yang masih hilang adalah, gitaris Herman Sikumbang, drummer Andi Windu Darmawan, kru Ujang, dan istri vokalis Irfan, Dylan Sahara.

Sementara dua yang meninggal adalah pemain bass, M Awal Purbani dan juga Road Manajer Oki Wijaya. Kabar terakhir yang didapatkan, gitaris Herman Sikumbang juga ditemukan meninggal.

Saat ini, korban bencana yang ditemukan terus bertambah dan yang mengalami luka-luka dilarikan ke klinik-klinik dalam radius 2-3 kilometer dari lokasi kejadian. Sejak tadi malam, tim SAR sudah diturunkan.



No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Post Top Ad

Your Ad Spot