Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Gejolak Gunung Anak Krakatau Hingga Tsunami yang Memakan Korban


Ngibarbalang.id – Dua abad sudah berlalu, kemarahan Gunung Krakatau kini kembali lagi. 22 Desember 2018, menjadi hari yang suram. Ketika sebuah panggung hiburan sedang menghibur di pinggiran pantai Anyer, kala itu ombak Tsunami menghempas panggung dan memakan korban kembali.

Krakatau vs Tambora...!!!


Tahun 1815 di langit Eropa agak berbeda, musim semi tak seperti biasanya. Cuaca tak wajar terjadi, ditandai hujan lebat disertai badai, kala itu suasana mencekam. Musim semi yang seharusnya penuh dengan sinar matahari tak terjadi saat itu, musim diisi dengan badai dan hujan lebat

Tercatat bahwa letusan pertama terdengar sampai Jawa pada sore hari tanggal 5 April dan setiap 15 menit terus terdengar sampai hari-hari berikutnya.

Rasa penasaran masyarakat akan suara dentuman itu menimbulkan sebuah rasa takut.

Awalnya, suara dentuman itu dianggap suara meriam hingga sebuah detasemen tentara bergerak dari Yogyakarta, mengira pos terdekat sedang diserang.

Di lereng Tambora, ada tiga kerajaan yang tercatat yaitu Kerajaan Tambora, Kerajaan Sanggar, dan erajaan Pekat. Semua kerajaan tersebut musnah oleh dahsyatnya letusan Tambora.

Kerajaan Bima sendiri turut mencatat peristiwa mahadahsyat ini seperti tertuang dalam naskah kuno Bo Sangaji Kai.

Krakatau muntah...



Dalam catatan sejarah Indonesia, letusan gunung Krakatau terjadi sekitar 26-27 Agustus 1883. Skala letusan Krakatau sangat dahsyat, meletusnya gunung Krakatau ini diperkirakan 30.000 kali lebih dahsyat dari bom atom Hiroshima dan Nagasaki di penghujung Perang Dunia II.

Dua hari dua malam letusan Krakatau telah membunuh lebih dari 36.000 jiwa manusia. Rata-rata korban tewas akibat dampak masif awan panas yang terlontar keluar dari perut Krakatau dan akibat gelombang tsunami yang menghempas pesisir pantai Jawa, Sumatera dan Samudera Hindia.

Krakatau muntah dan ledakan super dahsyat ini terjadi pada tahun 1883 telah menghancurkan puncak Krakatau dan menyisakan puncak baru yang lebih kecil, kini disebut sebagai gunung anak Krakatau. Anak gunung Krakatau ini lah yang masih aktif hingga kini.



Gunung krakatau terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Sebuah rangkaian pulau Vulkanik. Gunung ini merupakan akibat dari fenomena subduksi lempeng Australian dan lempeng Eurasian selama jutaan tahun.

Tubrukan dua lempeng tersebut yang memunculkan kawasan Kaldera Pulau Rakata, satu dari tiga pulau sisa letusan Gunung Krakatau Purba yang meletus pada awal abad Masehi.

Proses awalanya adalah aktivitas vulkanik dari lempeng Australian dan lempeng Eurasian yang menyatukan Pulau Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuwatan yang kemudian disebut sebagai Gunung Krakatau.

Letusan yang terjadi pada tanggal 27 Agustus jam 10.20 WIB di tahun 1883 merupakan aktivitas awal Krakatau yang sunyi selama 200 tahun tanpa gejolak vulkanis.

Penyimpanan energi besar di bawah kawah Krakatau kemudian melontarkan ledakan dahsyat.

Sejak tahun 1927 hingga kini, muncul ke permukaan sebuah gunung baru yang sering disebut sebagai Anak Krakatau. Pada tiap tahunnya, aktivitas gunung Anak Krakatau masih memuntahkan abu vulkanis dalam skala kecil, dan bertumbuh setinggi 6 meter atau 0.5 meter per bulannya.

Dan Tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 baru – baru ini merupakan dampak dari muntahan Gunung Anak Krakatau. Erupsi Anak Krakatau diperkirakan sebagai penyebab longsor bawah laut yang memicu gelombang tsunami besar hingga menewaskan ratusan orang Sabtu lalu.

Gunung api ini sedang memasuki fase baru dan mematikan, kata salah seorang ahli vulkanologi asal California, Jess Phoenix, setelah ia melihat gambar-gambar erupsi dan menganalisis lini masa erupsi.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Post Top Ad

Your Ad Spot