Breaking

Post Top Ad

Satu Indonesia, Membangun Desa Untuk Bangsa yang Berkualitas


Andy Muhammad, yang kemudian berubah menjadi Andi Muhammad, S.Pd. Sedikit penambahan gelar dibelakang nama pemuda yang berasal dari desa ini. Rasa bangga bercampur bahagia mendapatkan gelar itu. Sarjana Pendidikan, sebuah hasil perjuangan setelah selama 4 tahun bergelut di bangku kuliah. Saat itu suasana bahagia dalam serangkaian syukuran wisuda dan gelar yang didapatkan.

Mulai dari SMS, BBM, chat di messanger hingga update status dengan mengupload foto memakai toga. Hari itu dengan bangga melepaskan status Mahasiswa dan kembali ke desa asalnya.

Jarum jam terus berputar dan haripun berganti, euforia dan rasa bangga telah meraih gelar sarjana mulai redup dari raut muka. Selanjutnyasebuah perburuan pekerjaan di mulai.

Beberapa rangkap surat lamaran kerja tersusun rapi di dalam map berwarna merah dan mengantarkannya ke beberapa Intansi pemerintah dan lembaga swasta serta beberapa perusahaan yang ada di kota. Bermodalkan Ijazah Sarjana yang baru diraihnya, Andy berharap akan mendapatkan panggilan kerja dalam beberapa waktu kedepan.

Namun....

Apa yang terjadi tak sesuai dengan harapan. Dari sekian banyak surat lamaran kerja yang diantar nya tak ada satupun yang menghubungi kembali. Termenung lesu duduk menatap awan, memikul beban sebagai Sarjana pengangguran. Kebingungan menyelimuti pikiran, tak ada lagi bahagia seperti saat selesai wisuda, euforia telah lenyap.

Andy bukanlah satu-satunya Sarjana yang ada di desa itu. Ada sekian banyak pemuda yang berstatus sebagai Sarjana sepertinya. Menanti panggilan kerja yang tak datang dan pada ujungnya menjadi Sarjana pengangguran di desa.

Sebuah potret yang memprihatinkan di negeri ini. Andy yang notabene-nya seorang sarjana saja susah mencari kerja, bagaimana dengan mereka yang hanya mengenyam pendidikan sampai SD, SMP atau SMA. Ujung-ujungnya menjadi tenaga kerja di negeri tetangga, memperjuangkan nasib di negeri orang. Inilah kondisi yang terjadi di negeri ini.

Adakah yang salah dengan kondisi seperti ini? Sebenarnya, ada banyak hal yang bisa dilakukan di desa, sebuah pekerjaan tak selamanya di dapatkan di kota. Status Sarjana yang didapat tak berbarengan dengan Life Skill yang dikuasainya yang pada akhirnya harus berpatokan pada sebuah lembaga atau perusahaan.

Kondisi ini tak sejalan dengan visi dan misi pemerintah "membangun dari pelosok desa" seperti yang pernah di ucapkan oleh seorang jenderal bangsa ini,

Membangun negeri ini, harus dimulai dari desa!(A.H. Nasution)

Ungkapan yang sangat relevan dengan program pemerintahan saat ini. Namun kondisi real berbanding terbalik. Saat ini, Kondisi pengangguran sangat memprihatinkan tak sebanding dengan penciptaan lapangan kerja. Bayangkan! Ada berapa wisudawan dan wisudawati dalam satu lingkup provinsi yang memiliki beberapa perguruan tinggi? Kalkulasinya mencapai angka ribuan tiap tahunnya. Lalu, mau dikemanakan mereka? Apakah sebanding daya serap tenaga kerja dengan lapangan kerja yang tersedia? Tentu sangat tak sebanding, para pencari kerja terus meningkat tiap tahunnya menyebabkan arus calon pengangguran semakin tak terbendung. Jika semakin banyak orang atau masyarakat yang menganggur maka semakin banyak juga orang atau masyarakat yang secara tingkat perekonomian menuju ke kemiskinan.

"Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Maret 2017 jumlah penduduk miskin, yakni penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan di lndonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen dari jumlah total penduduk)  - Tempo.co, 17 Juli 2017
Data penduduk miskin Maret 2017 | www.tempo.co
Nah, jumlah ini akan terus meningkat seiring terus bertambahnya jumlah penduduk. Adakah yang salah dengan sistem di negeri ini? Atau jumlah ini akan di biarkan terus bertambah signifikan tiap tahunnya! 

Sangat menarik apa yang di ucapkan sang Jendral A. H. Nasution serta program yang sedang di laksanakan pemerintah saat ini, Konsep membangun negeri dari desa. Lalu, mengapa harus membangun desa? Adakah hal yang bisa dilakukan di desa?

Simak lebih lanjut yuk...!!!

Saat ini sudah ada dana desa yang nilainya cukup fantastis setiap tahunnya, kurang lebih 1 miliar tiap desa per tahun. Namun, apakah berdampak terhadap pengurangan pengangguran dan kemiskinan itu sendiri? Fakta di lapangan menunjukan anggaran dana desa terlalu fokus pada infrastruktur belum menyentuh pada peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) secara maksimal.

Ilustrasi Umum Dana Desa 2016 | kominfo.go.id
Intinya adalah pakai bangun, dana habis, buat laporan. Selesai! Inilah yang terjadi di lapangan. 

Pengalaman pribadi saya, setelah tamat dari perguruan tinggi saya mencari kerja di luar kota. Bertahun-tahun tak menginjak kampung halaman dan menggeluti aktivitas di luar kota. Setelah mendapat kesempatan cuti, saya pulang ke kampung halaman. Kondisi sedikit berbeda, ruas jalan dari perkotan menuju desa sudah hotmix, jalan gang dalam perkampungan sudah semenisasi, tanggul-tangul terlihat kokoh di bangun. Namun, yang anehnya adalah masyarakat itu sendiri. Tak ada yang berubah, masih dengan pola kehidupan yang sama. Hal yang demikian juga terjadi dengan beberapa desa sekitarnya. Mungkin inikah yang di sebut merdeka secara legalitas, namun manusia didalamnya masih dalam kesusahan dan masih terperangkap dalam kemiskinan yang berkelanjutan, sependapat dengan apa yang di katakan seorang politikus dari Afrika Selatan,

Mengatasi kemiskinan bukan sebuah sikap amal. Itu merupakan tindakan keadilan. Itu merupakan perlindungan terhadap hak asasi manusia yang fundamental, hak atas martabat dan kehidupan yang layak. Selagi kemiskinan berlanjut, tidak ada kemerdekaan sejati - Nelson Mandela

Adakah yang salah dengan pemerintah kita? Atau peran LPM? Sebuah lembaga atau wadah yang menjadi mitra pemerintah kelurahan atau desa dalam menampung dan mewujudkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat di bidang pembangunan dan pemberdayaan.  Segala partisipasi masyarakat yang dikembangkan melalui Lembaga Pemberdayaan Masyarakat ini mencakup aktivitas dalam merencanakan dan mengawasi pelaksanaan pembangunan di tingkat desa. Anehnya, pengelola LPM sendiri tidak begitu paham bagaimana cara mengelola dan memberdayakan masyarakat. Hanya sebatas menjalankan instruksi tanpa ada inovasi terhadap pemberdayaan yang dilakukan. 

So, Apakah membangun negeri dari desa bisa terwujud dengan baik? Sudahkah warga miskin berkurang? Jika jawabannya "belum" berarti apa yang sedang diregulasikan pemerintah belum tercapai. Tak ada yang salah dengan mereka, hanya keterbatasan sumber daya manusia sebagai pelaksana yang menjadi kendala besar terhadap suksesnya sebuah program.

Perlu diingat bahwa pengembangan terhadap sumber daya manusia di desa adalah usaha untuk membentuk manusia yang berkualitas yang memiliki keterampilan, kemampuan kerja dan serta kemandirian.

Di era globalisasi ini, salah satu elemen penting dalam membangun Sumber daya manusia adalah edukasi berkelanjutan. Pemerintah perlu mengandeng berbagai pihak untuk menghadapi permasalahan ini. Pihak yang dinilai memiliki kompeten dalam mengelola, meningkatkan serta mengasah sumber daya manusia menjadi berkualitas.

Hal tersebut pernah dilakukan di daerah Istimewa Yogyakarta, Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X bekerjasama dengan Group Astra melalui Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR) yang berkelanjutan hingga saat ini.

Launching Rintisan Desa Wisata | www.tourismnews.co.id.
Apa yang mereka lakukan?

Nah, pemerintah DI Yogyakarta dan Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR) meluncurkan Desa Tegalrejo, Gedangsari, Gunungkidul sebagai Desa Wisata Budaya. Peresmian ini bersamaan dengan gelaran “Pesona Gedangsari”. Kali ini mereka menjadikan model pusat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat melalui potensi desa wisata yang dipadukan dengan kekayaan budaya lokal yang belum tereksplorasi secara maksimal.

Sebagai informasi, Kecamatan Gedangsari termasuk dalam kencamatan termiskin di Gunungkidul, Yogyakarta. Melihat potensi yang ada di Gedangsari ini, PT. Astra Internasional Tbk melalui Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR) mengagas sebuah pembangunan desa wisata budaya berkolaborasi dengan paguyuban komite sekolah dan masyarakat yang ada di Desa Tegalrejo.

Apa uniknya gagasan ini?

# Membangkitkan gairah membatik mulai dari level terendah

Membatik, suatu yang bukan asing lagi bagi masyarakta Tegalrejo, Gedangsari. Batik Gedangsari yang sempat menghilang. Ada berbagai hal yang menyebabkan surut nya semangat para generasi muda untuk terus menekuni dan melestarikan membatik ini. Namun, situasi mulai membaik sejak timbulnya gagasan desa wisata budaya yang didalamnya terdapat kampung batik. Kerjasama yang baik, Pemerintah memasukkan seni membatik ke dalam kurikulum dan pihak YPA-MDR melakukan pendampingan, jadi jangan heran jika saat ini anak-anak sejak TK sudah mulai mengenal cara membatik hingga ke tingkat SD, SMP, SMK bahkan usia lanjut.

Secara konsisten Astra telah membina telah memberikan kesiapan berupa pelatihan dan pengembangan budaya serta kecakapan hidup di 6 SDN, 1 SMPN, dan 1 SMKN yang ada di Gedangsari. Selain itu juga membantu meningkatkan pelestarian batik dengan menyiapkan fasilitas laboratorium mini zat pewarna alam di SMKN 2 Gedangsari. Laboratorium mini ini di hajatkan untuk dapat memproduksi sendiri zat pewarna alam tersebut.

Nah, dengan memberikan pelatihan dan pengembangan budaya secara terkontrol akan mampu membentuk generasi muda yang cinta budaya, khususnya membatik. Pemikiran lebih lanjut, tak sampai sekedar pelatihan dan pengembangan budaya, faktor pendukung juga di siapkan agar mampu memproduksi sendiri zat pewarna alam.

Sinergi antara pemerintah daerah dan pihak swasta mampu membangkitkan kembali gairah membatik yang hampir saja mati. Hingga saat ini batik Gedangsari mampu bangkit lagi bahkan mampu mencuri perhatian publik.

# Membangun manusia melalui konsep sekolah Eskalator

Sebuah konsep yang menekankan pada pembinaan akademis, karakter, seni budaya dan kecakapan hidup. Empat metode pembelajaran ini di terapkan pada konsep sekolah eskalator ini. Target utamanya adalah pada lulusan yang diharapkan mampu menjadi pelopor pengembangan ekonomi kreatif sesuai dengan potensi daerahnya. Konsep ini lebih terpokus pada pembangunan sumber daya manusia menjadi mandiri.

Contohnya di Kecamatan Gedangsari, potensi unggulan wilayah tersebut adalah budaya batik. Nah, pada pelaksanaannya akan terfokus pada pembinaan dan pengembangan budaya membatik yang dilakukan secara berkelanjutan.

Pada sekolah yang berkonsep eskalator ini tak hanya terhenti sebatas dunia pendidikan akan tetapi bergerak di bidang ekonomi yang pada output nya lulusan diharapkan dapat menjadi mandiri dan mampu mengembangkan sesuai dengan potensi yang terdapat didaerah tersebut.

Keempat karakter tersebut diwujudkan dalam berbagai hal, misalnya selalu masuk sekolah tepat waktu. Makna akan sebuah kedisiplinan, mereka harus mampu menghargai waktu. Etika dan tata krama, menghormati guru dan teman-temannya adalah suatu hal yang wajib. Misalnya dengan memberikan salam dengan sopan. Hal ini dijadikan sebagai sebuah kebiasaan dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Konsep ini memahami betul apa yang sebenarnya di butuhkan dunia kerja atau dunia industri.

Karakter utama tersebut hanya salah satu dari program pembinaan YPA-MDR. Program lainnya yakni akademis, kecakapan hidup, dan seni budaya. Semua itu untuk mencapai tujuan menjadi sekolah yang unggul. Hal ini untuk melahirkan generasi muda yang mandiri dan peduli untuk membangun daerahnya sejalan dengan cita-cita PT. Astra Internasional Tbk, Sejahtera Bersama Bangsa. Jika generasi mudah sudah dipersiapkan secara matang maka dalam kondisi apapun mereka akan siap bersaing.

# Multiplier effect efek dari pengembangan wisata berbasis desa

Desa wisata budaya memiliki multiplier effect atau efek ekonomi multi ganda. Bayangkan guys, akan ada banyak kegiatan usaha yang terkait didalamnya. Akan banyak hal yang akan memberi nilai manfaat ekonomi yang sangat memberi arti di se-putaran wilayah Kepariwisataan tersebut. Mulai dari usaha kecil, menengah hingga usaha-usaha lainnya yang terkait didalamnya.

Rata-rata daerah terpencil didominasi oleh masyarakat yang hidup dibawah standar kelayakan atau miskin. Dengan demikian, adanya desa wisata ini dapat memberdayakan masyarakat tersebut untuk mulai bergerak ikut ambil bagian dalam lingkup desa wisata ini. Ada banyak hal yang dapat mereka lakukan. Contohnya yang paling sederhana malakukan aktivitas kerajinan tangan melalui pariwisata, mempekerjakan masyarakat sekitar ke dalam usaha pariwisata, penyediaan kebutuhan untuk pariwisata disediakan oleh masyarakat sekitar, seperti penyediaan bahan makanan atau bahkan dapat terjen langsung melakukan aktivitas penjualan terhadap barang dan jasa secara di sekitar lingkup daerah wisata.

Tak hanya di Daerah Istimewa Yogyakarta, PT. Astra Internasional juga berkontribusi terhadap daerah lainnya.

Peta Penyebaran Sekolah Binaan Yayasan Pendidikan Astra - Michael D. Ruslim | www.ypamdr-astra.com
So, what do you think? Realistis kah? 

Sangat realistis, hal ini dapat menjadi contoh di semua desa yang ada di Indonesia. Jika hal seperti ini dapat di contoh oleh desa-desa yang ada di negeri ini, bukan hal mustahil bangsa ini akan tegak berdiri sebagai bangsa yang bebas dari pengangguran dan kemiskinan. Bangsa kita adalah bangsa yang besar, potensi alam yang dimiliki sangat luar biasa. Masyarakat desa tak perlu lagi berkelana ke kota mencari pekerjaan. Lihat secara seksama rentetan yang dilakukan dalam gagasan desa wisata budaya, hal pertama yang di lakukan adalah penguatan sumber daya manusia dan di lakukan mulai dari jenjang sekolah. Inilah yang disebut sebagai bagian dari membangun sebuah peradaban untuk membangun sebuah bangsa seperti yang pernah diucapkan seorang aktivis HAM negeri ini

Membangun sebuah bangsa adalah membangun sebuah peradaban.Munir, Aktivis HAM Indonesia

Anak TK saja sudah bisa membatik, apalagi tingkatan atasnya. Ini artinya ada usaha mempersiapkan Sumber daya manusia sedini mungkin yang nantinya akan bergerak dan ambil bagi dalam usaha di lingkup wisata. Sebuah peradaban baru sudah disiapkan! Mereka sudah dibekali skill hidup! Dengan demikian roda akan berputar, kondisi ekonomi masyarakat akan membaik dengan perlahan-lahan. Hanya menunggu waktu untuk mengucapkan selamat tinggal Miskin.

Ingat, ada banyak perusahan-perusahan besar yang sedang beroperasi di Indonesia. Jika saja semua perusahan tersebut dapat bersinergi secara konsisten bersama pemerintah maka semua persoalan penganguran, kemiskinan serta persoalan lainnya dapat teratasi dengan mudah. Butuh tekad dan keseriusan dari semua pihak untuk mengatasi persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini. Permasalahan bangsa ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi semua pihak yang ada di dalamnya. Bukan hal yang mustahil, semua bisa dilakukan jika ada kemauan dan komitmen membangun bangsa ini. Kerjasama Pemerintah Yogyakarta dan PT. Astra Internasional Tbk. melalui Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR) bisa menjadi inspirasi untuk membangun bangsa ini menjadi Bangsa yang Hebat. Salam SATU Indonesia!



Sekolah binaan
Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR) 
Kec. Gedangsari, Kab. Gunungkidul - Yogyakarta

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Post Top Ad

Your Ad Spot