Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Friday, February 8, 2019

Umpan Siasat Hingga Benteng Sukkelenburg di Sumbawa

Umpan Siasat Hingga Benteng Sukkelenburg di Sumbawa.

Ngibarbalang.Id -- Senja menjelang terbenamnya matahari, berduduk santai dengan secangkir kopi seraya menikmati sang surya tenggelam. “Betapa Indahnya” awan di ufuk senja mengawal matahari terbenam, disini tempat orang-orang Sumbawa ataupun mereka yang dari luar Sumbawa menikmati berbagai kuliner sambil bersantai.

“Pantai Jempol”...

Demikian masyarakat Sumbawa menyebut tempat ini, jika sore hari tiba maka tempat ini mulai dipenuhi warga yang mulai dari ABG hingga mereka yang membawa keluarga sejenak berrefresing.

Sore itu, saya dan dua sahabat juga sedang menikmati indahnya pantai, suara merdu ombak dan sunset yang menawan.

Obrolan santai kami sejenak mengupas tentang Sumbawa dan sejarah-sejarah uniknya. Rasa penasaran saya tertuju pada cerita sang sahabat tentang seperti apa Sumbawa sebelumnya.

“ Mas Bantan”...

Satu nama yang terucapkan tersebut mengundang rasa penasaran dan keingintahuan saya terhadap sejarah yang sudah semestinya kita ketahui.

“Siapa Mas Bantan?”...

Apa kamu tahu siapa orang ini? Atau kamu pernah mendengannya dan bahkan tahu persis seperti apa ceritanya?

Akhir cerita dari obrolan saya bersama sang sahabat hanya sedikit mendapat informasi tentang beberapa hal yang saya ingin tahu. hal ini pada akhirnya menuntun saya untuk mencara lebih banyak lagi informasi dari sumber yang lebih akurat dan terpercaya.

Keesokan hari.....

Pagi menjelang siang, kala sedang berduduk santai  bersama keluarga di rumah adik sepupu dari ayah saya, mata ini tertuju pada tumpukan buku yang ada diatas meja. Pada tumpukan buku bagian paling atas terlihat jelas sebuah buku berwarna hijau yang bertuliskan:

“SUMBAWA PADA MASA DULU”....Buku yang pertama kali dicetak pada Tahun 1984,
Tanpa bertanya panjang lebar, saya langsung berdiri dan mengambil buku tersebut.

“Wah, ta nya buku ade ku buya”... (red: wah, ini buku yang saya cari) –  Basa Samawa atau Bahasa lokal daerah Sumbawa.

Banyak hal yang saya baca dari buku itu, salah satunya tentang MAS BANTAN. Siapa beliau? Terjawab didalam buku ini.

Are you curious?...

Saya juga penasaran...

Nah, berikut  ulasan lebih lengkap tentang siapa Mas Bantan ini,

Raja terakhir dari Dinasti Dewa Awan Kuning ialah Dewa Maja Paruwa. Sebagaimana telah diterangkan, beliau ini atas nama kerajaan Sumbawa telah menanda tangani perjanjian damai dengan kerajaan Goa, yang didalamnya dinyatakan, salah satu syarat yang harus dipenuhi ialah teguh memegang syariat Islam.

Setelah beliau wafat, kedudukannya digantikan oleh mas Goa tapi karena beliau ini masih dipengaruhi oleh stelsel dan pandangan hidup Hinduisme, lalu diturunkan dari tahta kerajaan oleh Nene Ranga Nuangsasi, nene Kanu Kanamertah dan Nene Jurupalasan.

Demikianlah yang tercantum didalam “Buk Kerajaan Sumbawa”

“Buk Kerajaan Sumbawa” anyways, kamu tau ‘BUK’ itu apakan? Kalo belum tau, cari tau ya! Biar rasa penasarannya nggak berkepanjangan.

Nah, Belanda pada saat itu selalu membawa juru tulis untuk menuliskan setiap kejadian yang ada, hanya saja setiap tulisan mereka selalu mengandung maksud tertentu kala dipublikasikan ke kalangan luas.

Yah..!!! pasti tulisannya versi mereka dan poinnya adalah untuk brainstorming masyarakat luas.

Misalnya,

Versi tulisan H. Zollinger yang menyatakan bahwa atas hasutan orang-orang Makasar maka pada tahun 1673 bangsawan-bangsawan Sumbawa merampok harta kekayaan Raja Mas Goa dan sekaligus menggantikannya dengan Mas Bantan.

Tulisannya agak bersifat provokatif kan...

Raja yang baru diturunkan ini digantikan oleh saudaranya bernama Mas Cini (menurut  Speelman) beliau ini telah kawin pada tanggal 24 Desember 1650 dengan Karaeng Panaikang dari Raja Tallo dan pada masa pemerintahan ini terjadi penaklukan Selaparang Oleh kerajaan Karangasam.

Setelah kejadian ini lalu dinobatkan adiknya bernama Mas Bantan yang bergelar Sultan Harunnurasyid I, akan tetapi dalam kalangan rakyat beliau ini lebih dikenal dengan sebutan Dewa Dalam Bawa.

Dinasti Dewa Dalam Bawa ini merupakan dinasti yang subur yang pada mulanya mengemban secara de facto suatu kerajaan yang menempati bagian daerah pantai utara yang subur antara Manini dan Kuris, ke selatan hingga Batulanteh dan orong Telu,

Seperti apa keistimewaan pada masa ini...

Sistem kerajaan sudah memperkenalkan masyarakat tentang ketaatan dan kepatuhan terhadap orang yang memimpin mereka. Setiap keputusan dari kerajaan adalah hal yang wajib di junjung dan dilaksanakan oleh rakyatnya, begitu juga halnya dengan rakyat kerajaan Sumbawa kala itu.
Ketaatan dan kepatuhan Rakyat Sumbawa terhadap raja mereka mempermudah Sultan Harunnurrasyid I untuk mencapai kemakmuran.

“Patuh dan taat adalah kuncinya”....

Pada masa Sultan Harunnurrasyid I, kerajaan mencapai puncak kemakmurannya, prihal pertanian menjadi perhatian pada masa itu sehingga Dea Karoya, Dea Ngampo, Sangaria, para Demung dan Ne Enti Desa terpadu dengan petugas-petugas irigasi atau malar-malar.

Bayangkan, seberapa luas tanah yang dapat digunakan untuk lahan pertanian. Kebijaksanaan Sultan Harunnurrasyid I membangun irigasi untuk pengairan pertanian menjadi perhatian khusus untuk kemakmuran rakyat serta kerajaan Sumbawa. Setiap daerah dibentuk petugas sebagai perpanjangan tangan kerajaan dalam membangun sebuah kemakmuran.

Can you imagine, semakmur apa rakyat Sumbawa waktu itu. Dengan hamparan lahan yang sangat luas dan ditopang dengan pengairan yang baik. Itulah bentuk perhatian Sultan Harunnurrasyid I pada rakyatnya.

Sisi lainnya lagi...

Pertahanan kerajaan pun menjadi hal utama dan mendapat tempat yang istimewa pada masa beliau. Pada saat itu, didirikannya benteng (kuta) negeri Sumbawa yang panjangnya 1288 depa (satu depa itu kurang lebih 1 meter setengah, ukuran yang digunakan pada jaman kerajaan) yang terbentang mulai dari tungkup Brangbiji, Lempeh hingga pasar Surya kampung Pekat.

Benteng kokoh ini dikerjakan oleh Pengantong Sepuluh dan kerajaan-kerajaan Seran, taliwang dan Jereweh. Sedangkan yang merawat dan memperbaiki adalah kampung-kampung yang berada didalam lingkungan benteng tersebut.

Situasi yang rentan... 

Pembangunan Benteng ini bukan tanpa alasan, antisipasi penyerangan serta membangun pertahanan Kerajaan serta rakyatnya menjadi hal yang prioritas sebuah Kerajaan. Ditambah lagi dengan penyerangan VOC atau kompeni Belanda sehingga Sultan Harunnurrasyid I harus memikirkan bagaimana membangun sebuah pertahanan dari serangan tersebut.

Sama halnya dengan Kompeni Belanda....

Menurut mereka, bukan merupakan hal mudah untuk menaklukkan Kerajaan Sumbawa dan menjadikan sebagai jajahan mereka. Kebiasaan menjajah suatu daerah membuat Kompeni Belanda matang dalam segala persiapan.

Pada masa itu, belanda sudah mendirikan bentengnya yang bernama Sukkelenburg. Benteng Sukkelenburg ini berlokasi dibukit sebelah utara Kota Sumbawa atau kampung irian sekarang. Letak benteng ini sangat strategis diatas kota Sumbawa, seluruh Kota Sumbawa nampak jelas dari benteng ini sehingga mudah saja bagi Belanda untuk memberondong meriam-meriam mereka ke arah Kota Sumbawa.

Jika kata Sukkelenburg diartikan secara terpisah Sukkelen berart sulit untuk maju atau lamban untuk maju kedepan  sedangkan burg berarti gedung yang dilengkapi dengan benteng.

Kesulitan VOC...

Nama Sukkelenburg ini ternyata melambangkan kesulitan Kompeni Belanda untuk menguasai Sumbawa seperti halnya dengan daerah lain yang dengan mudah mereka kuasai. Jalur diplomasi mereka tempuh, beberapa kali kompeni Belanda menawarkan kontrak perjanjian, sebagai bentuk siasat untuk menguasai Sumbawa namun semua itu di tolak oleh Kerajaan Sumbawa.

Oh ya...!!!

Ada yang unik...!!!

Kata ‘Sukkelenburg’ ternyata agak susah untuk diucapkan oleh rakyat Sumbawa kala itu dan yang biasa terucap adalah SEKLEMBER (read; seperti ucapan E pada kata Ember).

Gedung Belanda – sebutan masyarakat karang irian Sumbawa saat ini, karena gedung itu sebenarnya masih berdiri diatas perbukitan tak jauh dari pemukiman. Hanya saja tempat itu tidak dijadikan sebagai bukti sejarah. Generasi kini tak banyak tau asal muasal atau sejarah yang pernah terjadi di daerah, khususnya yang ada di Sumbawa dan sekitanya.

Atau..

Mungkin perlu kurikulum khusus Sejarah Lokal di Sekolah-sekolah formal serta terus mengali sejarah-sejarah yang tercecer dan dibukukan, agar para generasi muda dapat referensi bacaan dan mudah melupakan sejarah.

Seperti kutipan Founding Father kita Ir. Soekarno:

“ Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”...

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya”...

Karena bagaimana kita sekarang adalah hasil jerih payah perjuangan mereka para pelaku sejarah masa lalu. Jadi, wajib hukumnya tau sejarah.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Your Ad Spot