Latest News

Siapa Datu Museng yang Heboh di Trailer Film Maipa Deapati dan Datu Museng

Siapa Datu Museng

NgibarBalang.id – mengulas sejarah antara Sumbawa dan Makasar tak ada habisnya. Kedua wilayah ini memiliki ikatan sejarah yang sangat dekat. Saat ini sedang viral sebuah proyesi film berjudul MAIPA DEAPATI DATU MUSENG yang akan di tayangkan di bioskop pada tahun 2018.  Siapa Datu Museng? Dan ada berkibar bendera merah, hitam dan putih yang merupakan icon pasukan bala cucuk Kerajaan Sumbawa serta keris Datu Museng yang terkenal.

Nah, jika berselancar di dunia maya maka mungkin akan sedikit kebingunan karena beberapa versi. Nah, kali ini akan menguraikan kisah Datu Museng dan Maipah Deapati versi buku “Sumbawa Pada Masa Dulu” karangan lalu Manca.

Baca lainnya Di Afrika Selatan Juga Ada Kota Makasar, Serius!

Berawal dari wafatnya Sultan Muhammad jalaludin Syah II yang bertepatan pada hari selasa 1 Dzulhijah 1179 (1764 Masehi).  Pada saat itu kerajaan Sumbawa sedang berduka karena kemangkatan rajanya. Dalam adat istiadat Kerajaan Sumbawa, Raja baru akan dikebumikan jika sudah dipilih bakal penggantinya. Pada saat itu, Dea Ranga mengundang Para Menteri, Para Manca dan para lelurah atau Majelis Lima Belas Orang. Mereka adalah para perwakilan rakyat yang akan mengadakan musyawarah untuk menentukan pengganti raja. Dalam keputusan tersebut maka di angkatlah putra Mahkota Kerajaan menjadi Sultan dengan gelar Sultan Mahmud. Maka di dudukkan lah Putra Mahkota di singgasana lalu Jurupelasan/ Dipati membacakan surat keputusan yang berbunyi
Karowa Tana Samawa, kaleng Empang lako Jereweh, kaleng lit lako padesa, mufakat sarea tau peno, Sulta Mahmud dadi Dewa Masmawa
Namun, ketika itu Sultan Mahmud masih berusia 9 tahun maka ditunjuklah seorang Pemangku Raja atau disebut Riwabatang. Majelis Lima Belas Juga bertugas untuk menentukan pemangku raja yang di pilih dari raja-raja Kemutar Telu.
Daerah Kemutar terlu terdiri dari Taliwang, Jereweh dan Seran
Dan pada akhirnya pilihan jatuh kepada Dewa Mepaconga Mustafa Datu taliwang menjadi Riwabatang. Nah, keputusan memilih Dewa Mepaconga Mustafa ini menimbulkan amarah Datu Jereweh. Saat itu Datu Jereweh menginginkan dirinya untuk menjadi pemangku raja Sumbawa. Beliau mulai memikirkan cara bagaimana aga keputusan tersebut batal dan salah satu dari pemikiran tersebut adalah menggunakan pengaruh kompeni Belanda. Lalu secara diam Datu Jereweh berangkat ke makasar untuk meminta bantuan V.O.C. dalam perjalanan, beliau menyinggahi kerajaan-kerjaan yang ada di timur Sumbawa. Gayung bersambut, pihak kompeni pun sigap memandang celah adu domba Datu-Datu di Kerajaan Sumbawa. Dan pada akhirnya, melalui Datu Jereweh, pihak belanda berhasil membuat kontrak dengan beberapa kerajaan yang ada di Timur Sumbawa.

baca lainnya What! Manusia Menikah Dengan Anjing dan Pohon

Selanjutnya, apa yang dilakukan oleh Datu Jereweh ini sampai juga ketelinga Kesultanan Sumbawa dan menimbulkan amarah Rakyat tanah Samawa. Pemangku Sultan akhirnya bertindak cepat dengan memanggil Menteri Telu, Pengantong Dua Olas (Memanca Lima dan Lelurah Pitu) ku Lunyuk Agung untuk membicarakan masalah yang terjadi. Pemangku Raja Sumbawa tak ingin membiarkan apa yang telah dilakukan Datu Jereweh, hal ini dianggap sebagai suatu penghianatan. Dan pada akhirnya Dewa Masmawa dan tana Samawa mengutusukan Lalu Mallaranggeng Dea Tumuseng, seorang ksatria Muda. Dea Tumuseng terkenal akan kesaktiannya. Dea Tumuseng tanpa ragu menerima dan menjunjung perintah kerajaan kepadanya. Dengan ucapannya,
“Jangankan ke Ujung Pandang, ke lautan api pun apabila itu untuk kerajaan dan rakyat Sumbawa, senantiasa patik bersedia.  Hanya untuk tidak menjadi halangan bagi perjalanan patik, perkenankan berangkat bersama istri patik” 
Akhirnya Pemangku Kerajaan Sumbawa bersedia dan segera menyiapkan segala sesuatunya dan sementara itu Datu Tumuseng memberi tahu sang Istri dan Maipah Deapati menjawab bahwa ia hidup dan mati bersama suaminya dan pasrah menempuh maut bersama Dea Tumuseng. Dengan Gema suara “AllahuAkbar" maka berangkatlah Dea Tumuseng beserta istri dan rombongan menuju Ujung Pandang.

Dalam perjalanan air laut berubah menjadi merah sebagai pertanda jika pelayaran ini akan berakhir dengan darah. Setelah memakan waktu beberapa hari, akhirnya nampak Gunung Bawakaraeng dan Lompobatang dan akhirnya perahu sampai di pantai Galesong dan menjurus terus ke Barombong, Tangkapinjeng yang kemudian melalui Mariso, Matoanging dan Pulau LaE-LaE akhirnya masuk ke pinggiran Kampung Baru atau Losari.

Kedatangan Dea Tumuseng ini diketahui oleh belanda, sebelum Dea Tumuseng memasuki Makasar, pembesar-pembesar Belanda telah melakukan musyawarah dan disampaikan oleh gubernur melalui jurubahasanya beberapa hal
“Bahwa pertama-tama Dea Tumuseng harus diceraikan dari istrinya. Setelah itu barulah diasingkan kesuatu tempat dan dijaga agar tidak bisa kembali lagi ke Sumbawa. Dan belanda ingin mengsiasati tindakan itu agar tidak terjadi pertempuran dan tidak membawa korban manusia.
Akhirnya Dea Tamuseng tiba di Makasar dan bertempat di Kampung Galesong, disebelah selatan Benteng Ujung Pandang. Kepicikan belanda mulai memainkan akalnya dengan sangat ramah tamah mendatangi Dea Tumuseng. Jiwa kepahlawanan Dea Tumuseng tak mampu di taklukan dengan tipu muslihat Belanda. Apa yang di anjurkan oleh Gubernur belanda sangat melukai perasaannya dan menyalahi adat ketimuran. Hal ini di karenakan Gubernur Belanda meminta agar istri Dea Tumuseng menghadap sendiri serta Dea Tumuseng menyerahkan kerisnya sebagai tanda penghormatan kepada kekuasaan Belanda di Tanah Makasar. Dengan segenap jiwa kepahlawanannya Dea Tumuseng menolak permintaan Belanda. Hal tersebut membuat belanda menjadi gusar dan mulai melakukan tidak kekerasan. Dan pada akhirnya belanda menghubungi seluruh sekutunya, KeraEng Galesong, Palakina Mallengkari, Pasikina Parangtambung, I Bage Daeng Majanji, Bole-Bolena Tallo, KeraEng Lewa Ri Popo, I Taga Ri Magindara, KeraEng Nyikko Ri Kemaeng dan yang lainnya. Kepada mereka belanda mengatakan bahwa kedatangang Dea Tumuseng untuk merongrong kekuasaan Belanda dan sekutunya. 

Selanjutnya, belanda dan sekutunya mulai mengepung rumah Dea Tumuseng, serdadu belanda dan pasukan sekutu lainnya meminta Dea Tumuseng keluar. Letusan senjata serdadu kompeni mulai terdengan, dengan jiwa kepahlawanannya Dea Tumuseng mengambil Keris Saktinya, setelah itu pertarunganpun tak terhindarkan. Keris “si Samba” Dea Tumuseng mulai memakan korban, belanda di buat kocar kacir berlari hingga ke pantai Losari.

Akhirnya, Dea Tamuseng pun Kembali ke rumahnya untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Saat Dea Tumuseng beranjak Pulang, Para sekutu Belanda bermusyawarah, lalu diputuskan akan membunuh Dea Tumuseng ketika sedang Sholat lalu menugaskan Suro DaEng Jarro untuk melakukan hal tersebut, namun apa yang terjadi malah keris “Si Samba” yang mengenai uluh hati DaEng Jarro.
Singkat cerita, pertarungan sudah melalu beberapa hari. Tak tersentuh sebutir pelurupun badan Dea Tumuseng. Hingga tibalah pertanda saatnya belau akan menghadap Yang Maha Kuasa. Lalu ia pun menceritaknya kepada sang istri tercinta, sang istri menjawab dengan ucapan
Jangan hamba di tinggalkan, hamba tak sudi nantinya akan jatuh ke tanggan orang-orang kulit putih. Relakan hamba jalan duluan ke alam sana dan disanalah adinda menunggu kedatangan kanda
Lalu kemudian sang istri mengambil air wudhu dan merebahkan diri di pangkuan Dea Tumuseng. Dengan perasaan berat, sang suami memejamkan mata dan menghunus “si Samba”. Namun, sebelem itu, berucaplah Dea Tumuseng
Tabahkanlah adinda sayang, sebentar lagi kanda akan menyusul dan berjalanlah kesana dengan tentram
Setelah hampir jam 12, Dea Tumuseng mengajak Tujaku, satu-satunya sariyan yang masih hidup untuk pergi ke laut dan menyatakan bahwa sudah waktunya menghadap ke Yang Maha Kuasa. 
Lalu bertanya Sariyan Tujaku, dengan apa ia mesti melakukannya. Karena Dea Tumuseng tak binasa oleh air, tak terbakar oleh api, ditikam tak mempan dan tak tertembus oleh pelor
Lalu dicabutlah “si samba” untuk diberikan kepada Sariyan Tujaku, lalu dilakukannya permintaan Dea Tumuseng. Tertikamlah oleh keris “si samba” dan dengan keris itu pula menikam Sariya Tujaku.
Inilah dua Pahlawan Sumbawa yang terkenal tak pernah menyerah. Begitu pula dengan sang Istri yang senantiasa mendampingi sang Suami dalam berjuang. Mayat Dea Tumuseng dan istri dimakamkan di Jalan Datu Museng, Ujung Pandang sedangkan Sariyan Tujaku dimakamkan beserta rombongan lainnya di Lapangan Karebosi Ujung Pandang.

Sedangkan Keris si Samba yang tertancap di batang pisang hanyut kembali menuju Sumbawa, di bawa menuju Sungai Rhee. Lalu nelayan yang sedang menangkap ikan melihat dan mengambilnya dan saat ini ada di tangan orang yang berhak mewarisinya sedangkan sarungnya tertinggal di Goa.
Nah inilah kisah yang sangat mengharukan tentang kesetian dan ketaatan seorang Dea Tumuseng kepada kerajaan Sumbawa.

Image Soure
twitter.com