Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Saturday, June 18, 2016

Inilah Sumber Seni Masyarakat Sumbawa yang Terus Terlestari dengan Baik


ngibarbalang.id - Guys, mendengar kata 'lawas' mungkin agak sedikit aneh ditelinga kamu. Naaah, sepertinya kamu perlu simak beberapa hal berikut ini mengenai "Lawas Samawa"

Perhatikan baik-baik, dalam Kamus Bahasa Sumbawa-Indonesia dikatakan bahwa Lawas adalah sejenis puisi atau pantun  khas Sumbawa sehingga juga disebut sebagai bahasa puitik Tau ( orang ) Sumbawa. Lawas terdiri atas tiga baris dalam satu bait atau ada pula yang terdiri dari empat atau enam baris. 


Lalu, apa bedanya...???

Bedanya dengan puisi atau pantun melayu terletak pada suku kata didalam setiap barisnya. Kalau pantun 7 suku kata, maka Lawas terdiri dari 8 suku kata dalam setiap barisnya. Jika lebih maka membacanya akan sangat sulit. Lawas ini biasa dilisankan atau dilantunkan pada upacara-upacara tertentu misalnya pada upacara Nyorong, bagian dari sebuah prosesi pernikahan.


Selanjutnya, Lawas-lawas ini biasanya dipertunjukkan dalam dua bentuk, meliputi: Pertujukan di dipanggung dan pada saat orang bekerja di sawah dan di lading atau saat gotong royong membangun rumah, mengasuh anak, upacara adat, dan pada kegiatan Barapan Kebo ( Kerapan Kerbau ), yang kesemuanya itu merupakan tradisi dan budaya masarakat Sumbawa. Lawas juga dilantunkan pada saat beraktivitas misalnya untuk mengurangi rasa sepi, sebagai hiburan, mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang dilakukan bahkan untuk melakukan kritikan-kritikan terhadap penguasa.

Ini contoh Lawas yang biasa diperuntukkan bagi pengantin baru misalnya mengambil perumpamaan kepada bunga Oyong  atau dalam bahasa Sumbawa nya Tamuruk.


Na Mara Kemang Tamuruk 
Kekar Asar Gugir Subu
Maras Si Konang Sangara.

Lawas ini mengingatkan pengantin baru agar tidak seperti Bunga Oyong ( Tamuruk ) yang mekarnya sore hari namun gugur dan layu diwaktu subuh. Maknanya ; bahwa apalah artinya membangun sebuah rumah tangga yang hanya sesaat, padahal siapapun pasti menginginkan rumah tangga itu kekal sepanjang hidup. Dari itu itu orang tua berharap, agar rumah tangga itu bisa bertahan hingga ajal menjemput seperti yang terlukis dari sebuah lawas :


Mara Punti Gama Anak.
Den Kuning No Tenri Tana. 
Mate’ Bakolar Ke Lolo

Pohon pisang dilambangkan sebagai contoh yang pantas ditiru, walaupun dahannya mati dan menguning ia takkan lepas dari pohonnya.

Dari sebuah catatan, bahwa kehadiran Lawas bagi masyarakat Sumbawa pada awalnya berperan sebagai media ekspresi batin manusia dan sebagai perekam peristiwa yang terjadi di seputarnya. Apa yang tampak atau yang dipikirkan oleh masyarakat Sumbawa tempo dulu biasanya akan disampaikan melalui Lawas. Lawas seperti ini disebut pula dengan Lawas Loka karena sebagian besar lawas-lawas itu masing-masing bercerita tentang masanya. Sebuah contoh ketika orang-orang Makasar mulai berdatangan ke Sumbawa, orang-orang tua dahulu mencatat dan melukiskan sekaligus sebagai sebuah  peringatan bagi anak dadi nya ( anak,keponakannya ) dengan sebuah Lawas.


Mana Si Kapasal Cinde
Min Kadadi Tali Lampak
Ya Rik Repa’ Si Leng Tau.

Mana Si Kapasal Lutung
Lamin Dadi Lapis Songko
Soan Jonyong Si Leng Tau

Makna bait pertama adalah walaupun kita datang dari keturunan orang mulia, orang berada dsb namun jika perangai dan sikap kita tidak terjaga apalagi menunjukkan kesombongan dan bangga akan kelebihan yang kita miliki maka pasti akan dicampakkan oleh orang lain. Bait pertama lawas diatas menceritakan bagaimana dahulu itu orang-orang Makassar datang dengan segala kebesaran dan kekayaan yang melimpah ruah ditambah dengan pengikut yang sangat banyak. Begitu pula dengan penampilan dari sebagian besar diantara mereka yang cenderung menganggap hina penduduk asli yang rata-rata tidak memiliki harta dan dari keturunan rakyat biasa. Lalu sebagian orang Sumbawa saat itu kebanyakan pula mengikuti pola tingkah para pendatang itu sehingga orang-orang seperti itu dijuluki oleh orang-orang tua dahulu dengan sebutan Tanja Makassar.

Melihat kondisi itu diperkirakan lahirlah Lawas diatas sebagai sebuah pasangingat dan pasatotang ( Peringatan dan Nasehat ) agar jangan meniru hal-hal yang tidak selaras dengan kehidupan orang kebanyakan seperti yang tertulis di bait terakhir lawas diatas. “ Walaupun kita datang dari orang kebanyakan atau rakyat jelata yang disimbulkan dengan Lutung ( sejenis kain berwarnah hitam ) namun bersikap bijaksana, beretika, bertata karma, dan memiliki perangai yang baik ( dilambangkan kain Lutung itu sebagai lapisan sebuah kopiah ) maka akan didengar, disegani, diteladani dan dijunjung oleh orang lain. 

Sumber:
Sumbawanews.com

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Your Ad Spot